Tidak ada

Secangkir kopi hitam dan pekat, akhirnya aku tahu mengapa kamu begitu menyenanginya
Melihat pekatnya seolah mengintip ke ceruk refleksi diri yang di begitu dalam, begitu gulita
Harumnya indah mewangi dengan intensitas yang pas, getir nya menyeimbangkan sensasi rasa asam,fruity,panjen, manis, dan bau ketanahan.

Mengapa sastra dan kopi seringkali beriringan, padahal yang satu adalah remah-remah hitam biji buah yang digosongkan
Sedangkan yang satu.. entahlah mungkin remah-remah hasil perdebatan semalam, seminggu atau seumur hidup, yang gosongnya tak merata
Mereka barang jadi satu kala kepala ini suntuk dan ingin menuangkan kopi ke cangkir untuk diminum, dan ide dari kepala bisa dituang ke kertas untuk disesap

Hari ini aku tertampar oleh biduk kata-kata,

“Pekerjaanmu adalah sebuah keajaiban yang bisa didapatkan oleh wanita muda professional yang mengandung banyak keberuntungan.

Menghasilkan dan menopang kehidupaan sambil mengitari dunia, menapakkan langkah-langkah kecilmu di tanah-tanah nun jauh di mata, melalui kapal yang membawamu berjam-jam terbang, mecicipi beragam makanan yang kadang asin dan kadang hambar, bertemu orang-orang jauh rupa dari keluarga, dan serentet keberuntungan lain.

Posisi strategis sepertimu biasanya hanya ditempati oleh sanak family pemilik usaha, bukan nona muda sarjana lulusan dua tahun lalu yang bahkan sesaat lupa cita-cita terdalam hidup.

Dan kamu di sini, bercerita menderu-deru menumpahkan isi hati

Mengeluhkan betapa batin bak teriris dan tersiram jeruk nipisTakluk atas nama cinta

Betekuk lutut dan remuk redam atas satu kehilangan satu orang, yang katamu mematahkan hatimu.

You are young, and there is much ahead of you.
You’re so genuine for being this vulnerable, for being at the lowest point of your life, and you’ll do much better after storm passes.”

Bunga Seperempat Abad

Pagi ini aku terbangun selayaknya hari senin atau rabu
Melintas dalam pikiranku apa yang telah terjadi dalam kurun waktu 25 tahun, apakah aku benar-benar menjalani hari
To seize the day, carpe diem
Berada pada satu waktu masa ini,
menikmati segala seluk beluk rasa yang saling bertumbuh, bertabrakan, dan bereaksi satu sama lain
memberikan segala daya dan upaya terbaik saat ini

Terpekur aku di atas kasur, nosi berdamai dengan hati yang mengombang-ambingkan nalar merambat ke kesadaranku
Apakah aku sudah berdamai dengan hati?
Memadamkan segala ingin untuk tidak bersyukur
Meredam kegelisahan apa apa saja yang seharusnya sudah dicoret dari daftar panjang keinginan
Menimbang-nimbang kembali apa yang ingin aku lakukan, berlalu di gerbong kereta ekonomi Jakarta – Surabaya, menulis surat kepada kawan lama, menyusuri Kalimalang yang berwarna cokelat airnya untuk tau apa-apa saja yang dilewatinya

Mengenal diri sebagai sosok yang tak pernah alpa memvalidasi keberadaan diri sendiri, apakah aku mampu berdamai dengan kesendirian? Dengan kehampaan dari luar diri sendiri?
Sanggupkah aku memenuhi keutuhan diri dari hal remeh temeh yang menjadi pasir dan bata menyusun pondasi kehidupan.
Mengasihi, memberi sepenuh hati tanpa berharap timbalan yang mendekorasi warna pada jendela dan pintu
Selamat ulang tahun dan semoga segala gundah gulana menjadi pacu untuk terus bergerak, terus berkembang dan mewangi

Dari Rumi

Alam bermain teka-teki dalam diam
Mengajak serta dalam lomba mengejar kehidupan
Mengajarkan bagaimana membaca peta mengenai kemana kemudi harus diarahkan dan kapan layar harus dibentangkan
Satu hal yang pasti, bulatnya bumi menjadikan perjalanan tanpa panduan adalah permainan tanpa garis akhir

Matahari dan ketulusannya yang melakukan reaksi fusi tanpa batas
Malam dan kepekatannya yang menutupi buruk rupa masa lalu
Sungai dan konsistensinya yang memberi nafas pada apapun yang dilaluinya
Kematian dan kesenyapannya yang memadamkan amarah
Bumi dan kesederhanaannya yang mau memberi segala-galanya dan menerima apapun yang kembali padanya

Tak perlu tanda tanya diantaranya, karena kesemuanya begitu jelas

Bintang

Pada gemintang kugantungkan impianku jauh-jauh di langit yang bahkan tak bisa kugapai dengan tangga bambu

Kubiarkan cemerlang menemani saat hariku gelap, kujadikannya petunjuk arah yang seirama dengan kompas perjalananku

Langit malam menjadikannya keagungan rupawan nan elok yang menjulurkan tangan menarikkku untuk menempuh dimensi waktu

Ia, yang kutitipkan pada bintang malam kelak akan membawaku bereaksi fusi tanpa batas

Kukatakan pada angin, gemuruh, dan badai, “biar kalian mengamuk, benderangku tak akan pernah surut, ia mahligai terindahku yang kutuju dalam menyelami palung terdalam dan gunung tertinggi di fana ini.”

17; January week

Dia pekat dan dia lekat

Menjalar dalam ranum batang kehidupan

Kegilaan ini adalah hal konyol yang datang dengan mudah karena kamu membiarkannya masuk

Meracap dan menancap

Kata-katanya silih berganti dalam bingkai semesta pemikiranmu

Membolak-balik dan menghuyung-huyungkan pendirianmu yang ingin lari kocar-kacir dari tempurung

Dan di satu saat kamu berhenti

Entah satu hari lagi atau seribu tahun lagi

Saat nadi pusara ambisi diam tak mengejar

Saat menerima seutuhnya diterima

Katamu, everyone run on their pace

Mayflies

 

There is something beautiful to find pieces of happiness in the broken glass

To listen new  Ben’s Mayflies song during tough day at work

And to unwind the day by seeing kiss emoticon you sent me

 

I always wonder what did your parents do to raise such a wonderful son like you

For someone who possess the ability to bloom my heart at the fullest

For someone who finds me when I was invisible with such humility and sincerity