My Journey with PCOS, this not the story to get pregnant

PCOS, Polycystic Ovarian Syndrome yang sering kali sama dokter kandungan disingkat jadi masalah hormon. Kalau di instagram kan memang banyak yang suka share mengenai PCOS ini, tapi kemarin aku coba cari-cari sharing mengenai PCOS di Indonesia masih belum nemu yang cukup komprehensif bahas dari yang awam banget ke nyerempet-nyerempet science, atau kalaupun ada, biasanya yang bersangkutan sedang usaha hamil terus baru ketauan kalau PCOS. Aku akan coba bahas dari sisi lain, yaitu bagaimana sebenernya living with PCOS itself, karena aku belum menikah dan belum program untuk hamil.

So, let’s begin..

Hasil gambar untuk pcos campaign

Beginning 

Di penghujung tahun 2017, aku ngalamin kejadian di luar kebiasaan yang selama ini aku anggap okay, yakni pendarahan haid selama 2 bulan berturut-turut non-stop. In a way sih aku emang cuek aja, toh dari pertama kali haid umur 14 tahun sampai sekarang usia hampir 26 tahun juga ga tau jadwalnya kapan. Aku menganggap haid aku normal dengan siklus 14-21 hari haid, kemudian jeda 3-7 hari dan lanjut haid lagi selama 14-21 hari. Karena siklus ini, kalau lagi bulan puasa di kantor, temen-temen suka bingung kok aku banyak bolongnya (yaa, aku pun sama juga bingung ahaha). Akhirnya, setelah dipaksa-paksa sama Ahmed yang super gengges banget sama situasi aku (sedangkan akunya sabodo teuing), yaa aku mutusin untuk mempercepat kunjungan ke dokter.

By the way, sebelumnya aku udah sering banget ke obgyn buat cek masalah siklus. Pertama waktu umur 19 tahun, tapi dokternya bilang it’s okay karena masih muda, nanti balik lagi umur 21 tahun kalau masih bermasalah. Terus, sepanjang kuliah pernah konsul sama dokter asrama terkait masalah haid yang ga teratur dan dikasih pil KB, yang sampe sekarang juga belum pernah aku konsumsi. Umur 21, balik cek lagi tapi cuma dijawab masalah hormonal aja, it’s fine untuk haid lebih dari 14 hari dan nanti waktu ibadahnya menyesuaikan aja. Umur 23 , aku mutusin cek lagi tapi jawaban dokternya sama aja dan aku ga pernah dikasih apa-apa.

Atas dasar keempat pengalaman ini, aku merasa yaudahlah dan cuek bebek dengan segala situasi.. capek bok bolak-balik konsul cuma dibilang masalah hormonal tapi gatau apanya yang bermasalah (I was so stupid for not googling it further). On the other hand, mamaku selalu nekanin juga kalau beliau mengalami hal yang sama kayak aku dan baik-baik aja, toh keluar aku dan 3 orang lainnya.. but oh well, unfortunately this history doesn’t repeat himself.

Di pertengahan Januari aku mutusin untuk cek ke dokter dan kenalan sama dr. Ivanna Theresa. Beliau adalah orang pertama yang serius nanggapin kasus aku, dan setelah dicek sana-sini. Sama beliau baru ketauan kalau aku PCOS dari ngelihat fisik aku yang bongsor, kumisan, tangan juga berbulu, keluhan haid berantakan. Beliau juga buat note, bahwa kebutuhan dan sensitifitas setiap individu terhadap perubahan itu beda-beda, ada yang geser dikit aja berat badannya bisa langsung berantakan hidupnya, ada juga yang woles-woles aja. Untuk case aku, sepertinya aku bermasalah dengan berat badan. So, it is deeply personal.

Kunjungan pertama, aku diresepin norelut untuk 3x sehari selama 10 hari. Idealnya, setelah diresepin ini dan setelahnya harus haid selama maksimal 7 hari, tapi aku malah lanjut sampe 14 hari dan malah pendarahan parah. Ternyata minum norelut ini ga boleh sekip satupun saudara-saudara, atau ga ya malah tambah kacau siklusnya. Kembali kita mengulang resep Norelut, kali ini tanpa skip diminum 10 hari dengan bantuan alarm, the only time I missed was 30 mins behind schedule for 1 time only. Dan kali ini pendarahannya berhenti dan aku lanjut haid normal selama 7 hari.

Selama konsultasi sama dr. Ivanna aku dikasih penjelasan panjang kali lebar, pertemuan pertama hampir 1 jam buat USG dan konsultasi. Diterangin PCOS 101 sama beliau yang kurang lebih seperti ini;

  1. PCOS ditandai adanya sel-sel telur yang ga pernah matang dan numpuk di indung telur, hal ini bisa dicek via USG
  2. Kelebihan berat badan, jauh nyata dari ideal dan aku kelebihan 19 Kilo
  3. Tumbuhnya rambut-rambut di kaki, tangan, kumis, dll (aku banget sampe dikira anak monyet hiks)
  4. Acne breakout, aku jerawatan sampe di punggung juga, tapi sekarang hilang yang dimuka karena perawatan sama dr. Kun
  5. Siklus haid yang berantakan

Komplikasi dari PCOS ini banyak banget, kalau di search engine akan ada angka yang cukup untuk dijadikan referensi,  dari PCOS 101 sampe hasil disertasi serius mengenai PCOS. In short, PCOS menyebabkan:

  1. Jarang atau bahkan tidak ada ovulasi sehingga jarang atau tidak terjadi haid juga, faktornya bisa karena insulin dan testoteron/androgennya tinggi – ini yang susyah pas mau bikin dedek emesh
  2. Resiko diabetes karena resistensi insulin yang umumnya terjadi sama penderita PCOS
  3. Mood swing akut yang sering bikin emosi ga karu-karuan, kadang bawaannya mau nangis terus dan rada-rada depresi gitu deh. Ga boleh bitching out juga sih karena memang secara hormonal begitu adanya, lantas dijadiin justifikasi buat acting like a bitch.

Hal pertama yang harus aku lakukan menurut dr. Ivanna adalah nurunin berat badan. Pada kala itu dengan tinggi 168 cm, berat aku 81 kilo (jeeeeng..) dan ternyata setelah menggunakan rumus hitung-hitungan BMI Ideal, harusnya aku di 62-64 KG (then I have almostt 20 Kilos to go down with). Dengan segala support luar biasa secara mental (diomelin terus setiap hari sama Mama dan Ahmed ga boleh makan gula dan ngajakin taruhan jalan-jalan ke bali gratis) dan tekat sekuat baja (hahaha, becanda ceu), aku mutusin diet clean eating, less less carbo and sugar, banyak minum air putih, yaa 90% makan sehat 10% masih suka makan indomie atau jajan McD (godaan duniawi yang fana ini). Clean eating selama 2 bulan ditambah interval HIIT seminggu 3-5x sukses bawa aku ke 74 Kilo, yeay! Tapi masih 12 Kilo lagi harus diturunin.

Aku ngobrol juga sama sahabat baik aku, Lare, dan dia langsung suggest banyak banget informasi mengenai hormonal, living well, clean eating, dan ngenalin ke @RachelAust, jadi makin semangat buat living well to love myself.

Kedua, aku harus cek darah untuk cek apakah sudah ada resistensi insulin. Yang dicek adalah Insulin puasa dan Glukosa puasa. Hasil masing-masing dari analisa ini ok dan normal, tapi begitu masuk rumus penghitungan ternyata aku menjelang resistensi insulin. Sayang seribu sayang, di konsultasi terakhir dengan dr. Ivanna, beliau minta aku balik setelah 3 bulan dan report tracking haid nya teratur atau nggak.

3 bulan berlalu.

Turns out, aku nggak haid sama sekali, at all. 

Now

Minggu lalu pas ambil cuti di hari selasa, harusnya aku kontrol ke dr. Ivanna lagi, tapi aku males banget harus ke RS Carolus jam 3 sorean dan harus balik bareng sama orang-orang di jam pulang kantor (maklum, nyetir Jatiwaringin – Salemba – Jatiwaringin jauh uga boss). Aku iseng konsultasi ke obgyn di RSIA deket rumah, tapi hasilnya lame gitu, beliau kayaknya cuma fokus bikin aku ovulasi tanpa bisa ngejelasin what’s going on with my PCOS. 

Dengan segenap kegalauan di dalam hati, curhat sama Ira yang juga lagi galau gara-gara PCOS-nya dan kita berdua memutuskan untuk konsultasi dengan yang memang ahli PCOS dari Klinik Yasmin RSCM Kencana, dr. Gita Pratama di sabtu lalu. Btw, Ira ini case nya juga unik, anaknya kecil imut-imut langsing gitu, tapi PCOS, jadi dokternya pun agak heran sama dia.

First impression, dr. Gita terlihat capable untuk ngejawab pertanyaan-pertanyaan dari aku sama Ira yang masuk dan konsultasi bersamaan dan beliau juga confirm bahwa PCOS punya komplikasi yang cukup personal ke masing-masing individu, tergantung dengan bagaimana response tubuh kita terhadap PCOS itu sendiri. Aku sendiri ngelanjutin riwayat PCOS aku yang rekam medis nya udah aku pegang sejak January 2018 dan memutuskan untuk melanjutkan perawatan sama dr. Gita.

Untuk case aku, setelah berkeluh kesah mengenai perjalanan dengan 2 dokter terakhir, dr. Ivanna yang baik hati dan dr. RSIA yang yaaa begitu lah ya, aku tanyain dr. Gita kenapa aku pendarahan terus-menerus dan sekarang nggak pernah haid. Penjelasan beliau, justru karena aku ga pernah ovulasi sama sekali, sedangkan setiap bulan itu dinding rahim menebal untuk persiapan pembuahan, tapi karena aku ga pernah ada ovulasi akhirnya hanya darah-darah rapuh yang keluar (pantesan haid aku lama tapi cikit-cikit banget), sedangkan darah yang harusnya luruh sama sel telur malah ga keluar sama sekali.

Sebelumnya, aku pas bulan February (konsul terakhir sama dr. Ivanna) sudah test insulin dan glukosa puasa yang hasilnya normal, tapi pas masuk hitungan keduanya ternyata aku resistensi insulin alias insulinnya lebih banyak dibandingkan dengan glukosa dalam darah. Pulang dari dr. Gita, beliau suggest aku sama Ira buat cek darah lagi dan ambil hasil analisa Insulin puasa, Glukosa puasa, LH, FSH, Prolaktin, dan Vit. D untuk tau bagaimana arah PCOS ini dengan kaitannya terhadap tubuh kami masing-masing.

We will be back next Saturday!

Sampai sini dulu ceritanya, I’ll keep posted ASAP 😉

Pesan moral, serahkan segalanya pada ahlinya sehingga ga perlu nunda-nunda perkara yang sesungguhnya sangatlah penting.