Tidak ada

Secangkir kopi hitam dan pekat, akhirnya aku tahu mengapa kamu begitu menyenanginya
Melihat pekatnya seolah mengintip ke ceruk refleksi diri yang di begitu dalam, begitu gulita
Harumnya indah mewangi dengan intensitas yang pas, getir nya menyeimbangkan sensasi rasa asam,fruity,panjen, manis, dan bau ketanahan.

Mengapa sastra dan kopi seringkali beriringan, padahal yang satu adalah remah-remah hitam biji buah yang digosongkan
Sedangkan yang satu.. entahlah mungkin remah-remah hasil perdebatan semalam, seminggu atau seumur hidup, yang gosongnya tak merata
Mereka barang jadi satu kala kepala ini suntuk dan ingin menuangkan kopi ke cangkir untuk diminum, dan ide dari kepala bisa dituang ke kertas untuk disesap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s