Bunga Seperempat Abad

Pagi ini aku terbangun selayaknya hari senin atau rabu
Melintas dalam pikiranku apa yang telah terjadi dalam kurun waktu 25 tahun, apakah aku benar-benar menjalani hari
To seize the day, carpe diem
Berada pada satu waktu masa ini,
menikmati segala seluk beluk rasa yang saling bertumbuh, bertabrakan, dan bereaksi satu sama lain
memberikan segala daya dan upaya terbaik saat ini

Terpekur aku di atas kasur, nosi berdamai dengan hati yang mengombang-ambingkan nalar merambat ke kesadaranku
Apakah aku sudah berdamai dengan hati?
Memadamkan segala ingin untuk tidak bersyukur
Meredam kegelisahan apa apa saja yang seharusnya sudah dicoret dari daftar panjang keinginan
Menimbang-nimbang kembali apa yang ingin aku lakukan, berlalu di gerbong kereta ekonomi Jakarta – Surabaya, menulis surat kepada kawan lama, menyusuri Kalimalang yang berwarna cokelat airnya untuk tau apa-apa saja yang dilewatinya

Mengenal diri sebagai sosok yang tak pernah alpa memvalidasi keberadaan diri sendiri, apakah aku mampu berdamai dengan kesendirian? Dengan kehampaan dari luar diri sendiri?
Sanggupkah aku memenuhi keutuhan diri dari hal remeh temeh yang menjadi pasir dan bata menyusun pondasi kehidupan.
Mengasihi, memberi sepenuh hati tanpa berharap timbalan yang mendekorasi warna pada jendela dan pintu
Selamat ulang tahun dan semoga segala gundah gulana menjadi pacu untuk terus bergerak, terus berkembang dan mewangi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s