Trust is a fragile thing.

We all probably heard that trust is earned, not given. Or trust is like an eraser, it’s getting shorter with every mistake. Even trust is everything. Regardless, trust is the most basic thing of relationship, it is the spine, the backbone of what it means to love another person.

When we trust someone, we allow yourself to be vulnerable. Yet let that person in. We give that person our heart, our entire soul, and believe, despite all of the crap in the world, that they will take care of it. We watch that person walk away and we have the confidence that they are respectable and worth go throwing themselves around or flirting behind our back or opening themselves to any other person beside us. But the thing about trust, it relies so much to unknown. It is a testament of faith, that despite the odds and no matter what the world says, you believe the person we love will do us no harm.

Damn. That takes strength.

Tidak ada

Secangkir kopi hitam dan pekat, akhirnya aku tahu mengapa kamu begitu menyenanginya
Melihat pekatnya seolah mengintip ke ceruk refleksi diri yang di begitu dalam, begitu gulita
Harumnya indah mewangi dengan intensitas yang pas, getir nya menyeimbangkan sensasi rasa asam,fruity,panjen, manis, dan bau ketanahan.

Mengapa sastra dan kopi seringkali beriringan, padahal yang satu adalah remah-remah hitam biji buah yang digosongkan
Sedangkan yang satu.. entahlah mungkin remah-remah hasil perdebatan semalam, seminggu atau seumur hidup, yang gosongnya tak merata
Mereka barang jadi satu kala kepala ini suntuk dan ingin menuangkan kopi ke cangkir untuk diminum, dan ide dari kepala bisa dituang ke kertas untuk disesap

Patience isn’t easy

Patience is tears. Patience is cringing out of anxiety. Patience is wanting to smash your fists into sujud. Patience is crying for a response from God. Patience is feeling alone. Patience is painful. Patience is taxing. Patience is clenched fists and grinding teeth. Patience is swallowing insults. Patience is smiles covering tears. Patience is so hard.

But remember, The Qur’an says:
“And how could we not place our trust in God, seeing that it is He who has shown us the path which we are to follow?’
‘Hence, we shall certainly bear with patience whatever hurt you may do us: for, all who

have trust [in His existence] must place their trust in God [alone]!’” [14:12]

Remember Who gave you the path to your salvation, have trust in your Lord, and remind yourself of what The Prophet said:

“Seek closeness [to God] and be steadfast [patient], and in all that afflicts the believer there is atonement, even a thorn that pricks him, and the hardship he suffers.” [Tirmidhi]

Hari ini aku tertampar oleh biduk kata-kata,

“Pekerjaanmu adalah sebuah keajaiban yang bisa didapatkan oleh wanita muda professional yang mengandung banyak keberuntungan.

Menghasilkan dan menopang kehidupaan sambil mengitari dunia, menapakkan langkah-langkah kecilmu di tanah-tanah nun jauh di mata, melalui kapal yang membawamu berjam-jam terbang, mecicipi beragam makanan yang kadang asin dan kadang hambar, bertemu orang-orang jauh rupa dari keluarga, dan serentet keberuntungan lain.

Posisi strategis sepertimu biasanya hanya ditempati oleh sanak family pemilik usaha, bukan nona muda sarjana lulusan dua tahun lalu yang bahkan sesaat lupa cita-cita terdalam hidup.

Dan kamu di sini, bercerita menderu-deru menumpahkan isi hati

Mengeluhkan betapa batin bak teriris dan tersiram jeruk nipisTakluk atas nama cinta

Betekuk lutut dan remuk redam atas satu kehilangan satu orang, yang katamu mematahkan hatimu.

You are young, and there is much ahead of you.
You’re so genuine for being this vulnerable, for being at the lowest point of your life, and you’ll do much better after storm passes.”

My Journey with PCOS, this not the story to get pregnant

PCOS, Polycystic Ovarian Syndrome yang sering kali sama dokter kandungan disingkat jadi masalah hormon. Kalau di instagram kan memang banyak yang suka share mengenai PCOS ini, tapi kemarin aku coba cari-cari sharing mengenai PCOS di Indonesia masih belum nemu yang cukup komprehensif bahas dari yang awam banget ke nyerempet-nyerempet science, atau kalaupun ada, biasanya yang bersangkutan sedang usaha hamil terus baru ketauan kalau PCOS. Aku akan coba bahas dari sisi lain, yaitu bagaimana sebenernya living with PCOS itself, karena aku belum menikah dan belum program untuk hamil.

So, let’s begin..

Hasil gambar untuk pcos campaign

Beginning 

Di penghujung tahun 2017, aku ngalamin kejadian di luar kebiasaan yang selama ini aku anggap okay, yakni pendarahan haid selama 2 bulan berturut-turut non-stop. In a way sih aku emang cuek aja, toh dari pertama kali haid umur 14 tahun sampai sekarang usia hampir 26 tahun juga ga tau jadwalnya kapan. Aku menganggap haid aku normal dengan siklus 14-21 hari haid, kemudian jeda 3-7 hari dan lanjut haid lagi selama 14-21 hari. Karena siklus ini, kalau lagi bulan puasa di kantor, temen-temen suka bingung kok aku banyak bolongnya (yaa, aku pun sama juga bingung ahaha). Akhirnya, setelah dipaksa-paksa sama Ahmed yang super gengges banget sama situasi aku (sedangkan akunya sabodo teuing), yaa aku mutusin untuk mempercepat kunjungan ke dokter.

By the way, sebelumnya aku udah sering banget ke obgyn buat cek masalah siklus. Pertama waktu umur 19 tahun, tapi dokternya bilang it’s okay karena masih muda, nanti balik lagi umur 21 tahun kalau masih bermasalah. Terus, sepanjang kuliah pernah konsul sama dokter asrama terkait masalah haid yang ga teratur dan dikasih pil KB, yang sampe sekarang juga belum pernah aku konsumsi. Umur 21, balik cek lagi tapi cuma dijawab masalah hormonal aja, it’s fine untuk haid lebih dari 14 hari dan nanti waktu ibadahnya menyesuaikan aja. Umur 23 , aku mutusin cek lagi tapi jawaban dokternya sama aja dan aku ga pernah dikasih apa-apa.

Atas dasar keempat pengalaman ini, aku merasa yaudahlah dan cuek bebek dengan segala situasi.. capek bok bolak-balik konsul cuma dibilang masalah hormonal tapi gatau apanya yang bermasalah (I was so stupid for not googling it further). On the other hand, mamaku selalu nekanin juga kalau beliau mengalami hal yang sama kayak aku dan baik-baik aja, toh keluar aku dan 3 orang lainnya.. but oh well, unfortunately this history doesn’t repeat himself.

Di pertengahan Januari aku mutusin untuk cek ke dokter dan kenalan sama dr. Ivanna Theresa. Beliau adalah orang pertama yang serius nanggapin kasus aku, dan setelah dicek sana-sini. Sama beliau baru ketauan kalau aku PCOS dari ngelihat fisik aku yang bongsor, kumisan, tangan juga berbulu, keluhan haid berantakan. Beliau juga buat note, bahwa kebutuhan dan sensitifitas setiap individu terhadap perubahan itu beda-beda, ada yang geser dikit aja berat badannya bisa langsung berantakan hidupnya, ada juga yang woles-woles aja. Untuk case aku, sepertinya aku bermasalah dengan berat badan. So, it is deeply personal.

Kunjungan pertama, aku diresepin norelut untuk 3x sehari selama 10 hari. Idealnya, setelah diresepin ini dan setelahnya harus haid selama maksimal 7 hari, tapi aku malah lanjut sampe 14 hari dan malah pendarahan parah. Ternyata minum norelut ini ga boleh sekip satupun saudara-saudara, atau ga ya malah tambah kacau siklusnya. Kembali kita mengulang resep Norelut, kali ini tanpa skip diminum 10 hari dengan bantuan alarm, the only time I missed was 30 mins behind schedule for 1 time only. Dan kali ini pendarahannya berhenti dan aku lanjut haid normal selama 7 hari.

Selama konsultasi sama dr. Ivanna aku dikasih penjelasan panjang kali lebar, pertemuan pertama hampir 1 jam buat USG dan konsultasi. Diterangin PCOS 101 sama beliau yang kurang lebih seperti ini;

  1. PCOS ditandai adanya sel-sel telur yang ga pernah matang dan numpuk di indung telur, hal ini bisa dicek via USG
  2. Kelebihan berat badan, jauh nyata dari ideal dan aku kelebihan 19 Kilo
  3. Tumbuhnya rambut-rambut di kaki, tangan, kumis, dll (aku banget sampe dikira anak monyet hiks)
  4. Acne breakout, aku jerawatan sampe di punggung juga, tapi sekarang hilang yang dimuka karena perawatan sama dr. Kun
  5. Siklus haid yang berantakan

Komplikasi dari PCOS ini banyak banget, kalau di search engine akan ada angka yang cukup untuk dijadikan referensi,  dari PCOS 101 sampe hasil disertasi serius mengenai PCOS. In short, PCOS menyebabkan:

  1. Jarang atau bahkan tidak ada ovulasi sehingga jarang atau tidak terjadi haid juga, faktornya bisa karena insulin dan testoteron/androgennya tinggi – ini yang susyah pas mau bikin dedek emesh
  2. Resiko diabetes karena resistensi insulin yang umumnya terjadi sama penderita PCOS
  3. Mood swing akut yang sering bikin emosi ga karu-karuan, kadang bawaannya mau nangis terus dan rada-rada depresi gitu deh. Ga boleh bitching out juga sih karena memang secara hormonal begitu adanya, lantas dijadiin justifikasi buat acting like a bitch.

Hal pertama yang harus aku lakukan menurut dr. Ivanna adalah nurunin berat badan. Pada kala itu dengan tinggi 168 cm, berat aku 81 kilo (jeeeeng..) dan ternyata setelah menggunakan rumus hitung-hitungan BMI Ideal, harusnya aku di 62-64 KG (then I have almostt 20 Kilos to go down with). Dengan segala support luar biasa secara mental (diomelin terus setiap hari sama Mama dan Ahmed ga boleh makan gula dan ngajakin taruhan jalan-jalan ke bali gratis) dan tekat sekuat baja (hahaha, becanda ceu), aku mutusin diet clean eating, less less carbo and sugar, banyak minum air putih, yaa 90% makan sehat 10% masih suka makan indomie atau jajan McD (godaan duniawi yang fana ini). Clean eating selama 2 bulan ditambah interval HIIT seminggu 3-5x sukses bawa aku ke 74 Kilo, yeay! Tapi masih 12 Kilo lagi harus diturunin.

Aku ngobrol juga sama sahabat baik aku, Lare, dan dia langsung suggest banyak banget informasi mengenai hormonal, living well, clean eating, dan ngenalin ke @RachelAust, jadi makin semangat buat living well to love myself.

Kedua, aku harus cek darah untuk cek apakah sudah ada resistensi insulin. Yang dicek adalah Insulin puasa dan Glukosa puasa. Hasil masing-masing dari analisa ini ok dan normal, tapi begitu masuk rumus penghitungan ternyata aku menjelang resistensi insulin. Sayang seribu sayang, di konsultasi terakhir dengan dr. Ivanna, beliau minta aku balik setelah 3 bulan dan report tracking haid nya teratur atau nggak.

3 bulan berlalu.

Turns out, aku nggak haid sama sekali, at all. 

Now

Minggu lalu pas ambil cuti di hari selasa, harusnya aku kontrol ke dr. Ivanna lagi, tapi aku males banget harus ke RS Carolus jam 3 sorean dan harus balik bareng sama orang-orang di jam pulang kantor (maklum, nyetir Jatiwaringin – Salemba – Jatiwaringin jauh uga boss). Aku iseng konsultasi ke obgyn di RSIA deket rumah, tapi hasilnya lame gitu, beliau kayaknya cuma fokus bikin aku ovulasi tanpa bisa ngejelasin what’s going on with my PCOS. 

Dengan segenap kegalauan di dalam hati, curhat sama Ira yang juga lagi galau gara-gara PCOS-nya dan kita berdua memutuskan untuk konsultasi dengan yang memang ahli PCOS dari Klinik Yasmin RSCM Kencana, dr. Gita Pratama di sabtu lalu. Btw, Ira ini case nya juga unik, anaknya kecil imut-imut langsing gitu, tapi PCOS, jadi dokternya pun agak heran sama dia.

First impression, dr. Gita terlihat capable untuk ngejawab pertanyaan-pertanyaan dari aku sama Ira yang masuk dan konsultasi bersamaan dan beliau juga confirm bahwa PCOS punya komplikasi yang cukup personal ke masing-masing individu, tergantung dengan bagaimana response tubuh kita terhadap PCOS itu sendiri. Aku sendiri ngelanjutin riwayat PCOS aku yang rekam medis nya udah aku pegang sejak January 2018 dan memutuskan untuk melanjutkan perawatan sama dr. Gita.

Untuk case aku, setelah berkeluh kesah mengenai perjalanan dengan 2 dokter terakhir, dr. Ivanna yang baik hati dan dr. RSIA yang yaaa begitu lah ya, aku tanyain dr. Gita kenapa aku pendarahan terus-menerus dan sekarang nggak pernah haid. Penjelasan beliau, justru karena aku ga pernah ovulasi sama sekali, sedangkan setiap bulan itu dinding rahim menebal untuk persiapan pembuahan, tapi karena aku ga pernah ada ovulasi akhirnya hanya darah-darah rapuh yang keluar (pantesan haid aku lama tapi cikit-cikit banget), sedangkan darah yang harusnya luruh sama sel telur malah ga keluar sama sekali.

Sebelumnya, aku pas bulan February (konsul terakhir sama dr. Ivanna) sudah test insulin dan glukosa puasa yang hasilnya normal, tapi pas masuk hitungan keduanya ternyata aku resistensi insulin alias insulinnya lebih banyak dibandingkan dengan glukosa dalam darah. Pulang dari dr. Gita, beliau suggest aku sama Ira buat cek darah lagi dan ambil hasil analisa Insulin puasa, Glukosa puasa, LH, FSH, Prolaktin, dan Vit. D untuk tau bagaimana arah PCOS ini dengan kaitannya terhadap tubuh kami masing-masing.

We will be back next Saturday!

Sampai sini dulu ceritanya, I’ll keep posted ASAP 😉

Pesan moral, serahkan segalanya pada ahlinya sehingga ga perlu nunda-nunda perkara yang sesungguhnya sangatlah penting.

 

To my a little sanctuary,

It was funny to think how we both end up in the relationship, which rarely comes to my mind and why are we together, even now.

Everything felt surreal.

For some people, it may not sound like relationship-albeit that’s why we call it personal relationship. We have huge personal space, no anniversary date (let alone when and how we celebrate it), the amount of pictures we took together, frequencies of seeing each other which varies from twice a month to a week, how usual our dates which revolves around what to eat for lunch, dinner, and munchies during weekends, or merely phone call for 10 mins – 2 hours. When we don’t meet, he’s always been a phone call away.

It brings the giggles that now I hardly picture myself without him, which has been more than 2 years (and counting) and surely has been quite roller coaster (as hell).

We talk, we fight, we argue, we scream, we love, we kiss, we forgive, we cry, we mend, we collide, we hug, and we care.

After these massive ups and downs.. I know we’ll be there for each other and it feels like we bound to each other somehow.

And I know that he’s my home, my new definition of home.

It’s complicated, it’s hard, it’s definitely not a cheeky novelty romance nor Nicholas Sparks fairytale. It is beautiful and magical and it feels like walking through unicorn cotton candy field. Well, and it can feel like climbing a rocky mountains sometimes too or having torn caught in your throat.

This man, makes me my heart grows fonder every single day, except on days when he pissed me off.

In the flow

We spent fourteen good hours yesterday, talking, dancing, and hugging, and I crave for more. It felt unnatural to see him walk out the door and kiss me goodbye.

swinging - whimsical

Everything related to him must be done with extra cautions. His presence has turned me into a porcelain doll-fragile, breakable, and too fussy to be carried. Before that, I never knew such a text could consume so much energy. He had appeared in my night sky like a little dwarf, a star feeble in light but so dense that I was sucked into gravity field where my normal self was either shattered or flattened. Within his orbit I was nothing but flat noodle. It was so hard to breathe. So hard to get out.

I realized that with him, I am constantly swaying from one side to another. To let him go and give up, and to make it work, like deep down I know I have been loving this man for years and I know for sure he does the same too.

Some stupid philosopher kept telling us to go with the flow, to drift with the river of life. I hate to see him briefly. It is not worth the piercing sensation in the chest he left me for weeks that I have to muster extra energy to function properly. And I miss him so bad, so badly that my tears coming out of nowhere.

All these emptiness.

And again, life sways me from one side to another.

From Recoverso – Dee Lestari